Kesehatan

Upaya menembus batas inovasi bidang kesehatan di era "New Normal"

04 Jun 2020, 04:12 WIB

Demand Readiness Level:

Upaya menembus batas inovasi bidang kesehatan di era "New Normal"

 

Budi Wiweko

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Wakil Direktur IMERI FKUI

Ketua Komisi 2 Senat Akademik Universitas Indonesia

Sekjen Pengurus Pusat POGI

 

Konsep demand readiness level atau tingkat kebutuhan masyarakat dikenalkan oleh Paun, seorang ilmuwan Perancis pada tahun 2011. Beliau paham betul bahwa tingkat maturitas teknologi membutuhkan perjalanan panjang agar dapat menjadi sebuah produk inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Fenomena ini kerap kali menjadi penyebab utama sulitnya sebuah riset dan inovasi menjawab kebutuhan masyarakat. Diperlukan berbagai tahapan penelitian mulai dari tingkat dasar, translasional serta terapan sampai akhirnya sebuah riset berlabuh pada tahapan produksi massal. Upaya ini membutuhkan waktu tahunan bahkan mungkin puluhan tahun.

 

Technology Readiness Level (TRL) dalam Riset dan Inovasi

Saat ini kita begitu akrab dengan istilah tingkat kesiapterapan teknologi (technologi readiness level = TRL), sebuah terminologi yang dikembangkan oleh NASA, lembaga penerbangan antariksa Amerika Serikat, pada era 1970-an.

Demi menjaga kesempurnaan produksi pesawat ruang angkasa, NASA menetapkan tahapan 1 sampai 9 untuk mengukur maturitas sebuah teknologi mulai dari desain, protipe, uji coba dan peluncuran produk dalam skala besar. Lebih dari 20 tahun konsep TRL ini mengawal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab semua kebutuhan masyarakat.

Kelemahan utama pengembangan teknologi berbasis TRL adalah perbedaan cara pandang dan gagasan antara peneliti serta industri. Acapkali minat dan keahlian ilmuwan atau pakar dinilai tidak mampu menterjemahkan kebutuhan pasar sehingga banyak hasil riset dan inovasi yang berhenti pada skala prototipe saja.

Disamping itu, investasi yang dibutuhkan pun sangat besar serta memerlukan waktu yang sangat lama untuk mengawali semua riset dari tahap dasar atau laboratorium. Bagi negara kita tentu hal ini menjadi sebuah tantangan yang harus segera dipecahkan demi tegaknya kemandirian dan ketahanan di bidang kesehatan.

 

Akselerasi Hilirisasi pasca Pandemi

Association University Technology Managers (AUTM), sebuah organisasi technology transfer office Amerika, melaporkan bahwa mereka melahirkan 380 ribu produk dalam kurun waktu 20 tahun, dan 80 ribu di antaranya menghasilkan paten internasional.

Technology transfer office sudah lama dikenal sebagai wadah penyatuan gagasan antara peneliti dan industri dalam upaya melahirkan sebuah inovasi dan produk. Hadirnya pihak industri sejak awal proses penelitian dinilai berpotensi mengarahkan hasil inovasi agar lebih mengakomodir kebutuhan masyarakat.

Di Indonesia sendiri tercatat kurang lebih 80 perguruan tinggi memiliki kantor hak atas kekayaan intelektual (HAKI) yang diharapkan berfungsi sebagai katalisator komunikasi antara peneliti dan industri.

Namun tampaknya hal ini masih cukup sulit berjalan dengan ideal mengingat diperlukan fasilitas penunjang yang luar biasa dalam pembangunan tingkat maturitas teknologi serta acapkali ditemukan gagasan yang belum seirama antara para peneliti dan industri.

 

Menyatukan gagasan peneliti, industri dan kebutuhan masyarakat di era "New Normal"

Pandemi Covid 19 mendorong banyak perubahan dalam tatanan inovasi kesehatan Indonesia. Kita bisa menyaksikan lahirnya ratusan inovasi anak negeri yang sangat membantu pemerintah dalam penanganan pandemi.

Khusus bidang alat kesehatan dan obat, kita mendapatkan tantangan bagaimana uji pre klinik maupun uji klinik bisa dilaksanakan dengan sangat cepat sehingga mampu meyakinkan para inventor bahwa produknya akan segera digunakan di pasar.

Konsep demand readiness level sangat membantu akselerasi hilirisasi inovasi mengingat gagasan para peneliti dan industri sudah seirama karena tujuannya adalah menjawab kebutuhan masyarakat yang sangat tinggi. Saat ini kita memilki produk ventilator dalam negeri yang sudah dalam tahap uji klinik, begitu pula kita harapkan pada produk vaksin maupun obat untuk penyakit Covid 19.

Pandemi Covid 19 memberikan contoh nyata bahwa kebutuhan pasar (masyarakat) yang sangat tinggi dapat menyamakan persepsi peneliti dan industri sehingga inovasi dilakukan serta didorong lebih cepat ke dalam ranah produksi dan pemanfaatan.  Dengan kata lain, sebuah inovasi yang memiliki demand readiness level tinggi dapat lebih cepat didorong ke tingkat produksi walaupun tingkat kesiapterapan teknologinya relatif masih belum terlalu siap.

Tingkat kebutuhan masyarakat yang sangat tinggi diyakini merupakan sebuah simpul kekuatan atau gerbong penarik inovasi kesehatan di negeri ini yang dapat didorong lebih kencang dengan kekuatan teknologi.

Betapa Indonesia menantikan lahirnya produk obat serta alat kesehatan dalam negeri demi terwujudnya kesehatan bagi semua. Kita membutuhkan produk alat kesehatan substitusi impor yang masih mendominasi pasar (sebesar 94%) serta melahirkan obat berbahan alam Indoenesia yang mampu menggantikan impor active pharmaceutical ingredient dari India atau Cina.

 

Kolaborasi lintas disiplin dan kekuatan penta heliks akan mewujudkan konsep "Market pull -- technolgy push" dalam setiap inovasi di bidang kesehatan. (bw 2020)